Kakakku yang pertama orang beken. Kakakku yang ke dua juga beken. Aku pun ingin juga ikut beken. Mama, bolehkah aku ikut nge-trend, jadi keren kan paten. Mama, berjanjilah padaku kalo aku juga bisa beken. Pengen beken..
Telah aku umumkan, kepada teman-teman. Mulai teman kencan, sampai ke sarang preman. Aku terpilih jadi seorang model iklan, iklan cap tangan yang keliatan hanya lengan. Ku jadi tak percaya diri, ku pandangi wajah ini. Rambut emang hitam lebat, tapi wajah agak pucat. Kuku panjang hitam-hitam, gigiku pun jarang-jarang. Akankah ku beken dengan keadaan ini.
Bisakah aku jadi orang beken. Terkenal hingga setaraf superman. Jadi model ataupun pemain band. Jadi atlet ataupun jadi sinden. Asal beken, kaya batman. Jiwa raga ku pertaruhkan asal aku bisa jadi beken. Pengen beken..
Aku pernah berprestasi. Walau setahun sekali. Walau gak dapet medali. Di hari proklamasi. Aku ikut balap karung, melawan jagoan di kampung. Lawan tersandung, kemenangan gak kebendung. Ku mencoba panjat pinang, karna hadiahnya segudang. Tetapi aku tercengang, celana melorot di belakang. Hadiah tak dapat ku sikat, hanya malu yang ku dapat. Semua daya dan upaya tak mengangkat nama.
Angan ku ingin jadi orang beken. Membuat kepalaku sering migrain. Hingga ku mendatangi bapak kuncen. Dukun ahli yang bisa bikin beken. Bawa permen, buat sesajen. Komat-kamit mbah dukun sambil ngomong : “Kamu gak bakalan beken. Bukannya saya sentimen. Tapi dijamin 100 persen. Kalo kamu susah jadi beken...”. #APEEEEESS...
ngakak...tp saya beken loh
ReplyDelete